Skip to content

„Banyak-banyak aja Minum Air Putih Setiap Hari biar Ginjal Sehat“ : Hmm, Mitos atau Fakta sih? :)

Ditulis oleh Fani Mutia Cahyani | Mahasiswi Master di Pharmazie Department Pharmazeutische Biologie – Molecular Biomedicine, TU Braunschweig

Dalam beberapa waktu terakhir, di Indonesia kasus gagal ginjal akut banyak menyerang anak-anak berusia 6 bulan sampai 18 tahun. Seperti yang dilansir dari Menteri Kesehatan RI bahwa hingga tanggal 26 Oktober 2022, kasus gangguan ginjal akut atipikal atau disebut juga acute kidney injuries (AKI) telah menimpa 269 anak dengan persentase meninggal atau fatality rate yang cukup tinggi, mencapai 58 persen atau sebanyak 157 anak.

Nah apa sih sebenarnya gagal ginjal itu, apa saja gejala dan apa penyebabnya?

Gagal ginjal akut/ GGA (Acute kidney injury/AKI) didefinisikan sebagai penurunan mendadak dari fungsi ginjal (laju filtrasi glomerulus/ LFG) yang bersifat sementara, ditandai dengan peningkatan kadar kreatinin serum dan hasil metabolisme nitrogen serum lainnya, serta adanya ketidakmampuan ginjal untuk mengatur homeostasis cairan dan elektrolit (Andreoli, 2009).

Terjadinya gagal ginjal akut menyebabkan penumpukan limbah dalam darah dan menyulitkan fungsi ginjal untuk menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh. Penyakit ini juga dapat mempengaruhi organ lain seperti otak, jantung, dan paru-paru (Goldstein, 2006).

Pada umumnya penyakit ini sering terjadi pada orang dewasa, namun yang terjadi di Indonesia baru-baru ini adalah pada anak-anak.

Nah apa kira-kira penyebab GGA pada anak-anak ini?

Menteri Kesehatan RI menyampaikan bahwa dugaan penyebab kasus gagal ginjal yang menyerang anak di bawah usia 5 tahun itu adalah karena adanya senyawa kimia yang mencemari obat-obatan sirup. 

Senyawa kimia yang dimaksud di antaranya adalah Etilen Glikol (EG), Dietilen Glikol (DEG), dan Etilen Glikol Butyl Ether (EGBE). Ketiga senyawa kimia tersebut dapat menyebabkan kerusakan ginjal karena memicu asam oksalat dalam tubuh dan membentuk kristal di dalam ginjal (Watson, 2004).

EG dan DEG merupakan cemaran yang umumnya digunakan dalam sebuah industri pembuatan cat dan tinta. Efek senyawa ini terhadap kesehatan yaitu dapat menyebabkan mual, muntah, diare, hingga kerusakan ginjal, hati, dan saraf pusat.

Lalu apa aja sih RED-Flag dari GGA ini?

Gejala secara umum diantaranya; Diare, Batuk dan pilek, Mual hingga muntah, Demam selama tiga hingga lima hari, Jumlah air seni semakin sedikit bahkan sama sekali tidak bisa buang air kecil, Terdapat bengkak di kaki, pergelangan kaki dan sekitar mata, Mudah lelah, Sesak napas, Munculnya rasa kebingungan dan cemas tanpa sebab hingga nyeri dada (Strazdin, 2004).

Apakah penyebab gagal ginjal pada orang dewasa juga sama?

Beberapa penyebab gagal ginjal akut ada beberapa hal yaitu aliran darah yang berkurang, kerusakan langsung pada ginjal, dan penyumbatan saluran kemih.

Menurut National Kidney Foundation, salah satu dari penyebab penyakit ini muncul pada anak yaitu aliran darah yang berkurang ini dapat terjadi karena terlalu sering menggunakan obat nyeri yang disebut NSAID.

Obat yang digunakan untuk mengurangi pembengkakan atau menghilangkan rasa sakit akibat sakit kepala, pilek, flu, dan penyakit lainnya. Contohnya termasuk ibuprofen, ketoprofen, dan naproxen (Strazdin, 2004).

Eits, banyak yang bilang banyak minum air putih bagus untuk ginjal ya?

Menurut National Kidney Foundation, sekitar 60 hingga 70 persen tubuh manusia terdiri dari air. Makanya, manusia memerlukan konsumsi air yang cukup setiap harinya agar tubuh tetap terhidrasi.

Selain itu, air juga menjaga suhu tubuh, dan meningkatkan kesehatan pencernaan.

Akan tetapi, banyak minum air putih juga bisa merusak ginjal. Kok bisa begitu?

Menurut Andreoli (2009), minum air terlalu banyak akan membuat ginjal mengeluarkan urine terus-menerus. Sementara, urine mengandung elektrolit yang salah satunya adalah natrium. Natrium yang keluar terus menerus, akan terjadi hiponatremia atau gangguan elektrolit. Hal ini bisa mengancam nyawa.

Melansir dari mayo clinic, gangguan elektrolit akan menimbulkan gejala berupa mual dan muntah, kebingungan, sakit kepala, serta kram otot. 

Jika tidak segera diatasi, penyakit tersebut akan mengganggu fungsi ginjal hingga menimbulkan penumpukan cairan di otak. Pada kondisi kronis, hiponatremia dapat menyebabkan kejang-kejang, hingga kematian. 

Minum air terlalu banyak juga akan berdampak buruk pada penderita gagal ginjal. Ini karena penderita tidak mampu mengeluarkan cairan lewat urine secara normal akibat rusaknya fungsi ginjal. Kondisi tersebut kemudian membuat tubuh penderita mengalami penumpukan cairan. Pada kondisi parah, penumpukan cairan bisa terjadi di otak dan dapat menyebabkan kematian. 

Itulah mengapa penderita gagal ginjal tidak boleh minum banyak. Takaran minum penderita gagal ginjal pun sebaiknya mengikuti saran dokter. 

 

Jadi, gimana dong sebaiknya konsumsi air putih yang sehat?

Minum Air sesuai Kondisi Tubuh

Anjuran umum minum air putih setiap hari adalah 8 gelas. Namun, jumlah kebutuhan harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Melansir mayo clinic, diperkirakan pria membutuhkan 13 cangkir air atau setara dengan 3 liter air setiap harinya. Sementara itu, wanita membutuhkan 9,9 cangkir atau setara 2,2 liter air setiap hari.

Bagi orang dengan gagal ginjal, jumlah air putih yang diminum harus dibatasi sesuai rekomendasi dokter. Namun, disebutkan di American Kidney Fund, jumlah yang umumnya direkomendasikan adalah 32 ons (sekitar 950 ml atau 3-4 gelas) per hari (Myjak, 2010).

Rutin Self-check Warna Urine

Urine yang berwarna kuning biasanya menandakan bahwa kebutuhan cairan kamu sudah tercukupi. Warna ini juga menunjukkan kalau Anda tidak minum air putih secara berlebih. 

Namun, apabila urine berwarna kuning gelap, tandanya kamu mengalami dehidrasi dan butuh minum air lebih banyak. Meski begitu, pastikan tidak minum air putih dalam jumlah banyak sekaligus. 

Jadi, Kesimpulannya?

Jadi banyak minum air putih itu bagus untuk ginjal asal dalam jumlah cukup dan sesuai dengan takaran tubuh yaa guys 🙂

Kalau over ya justru membahayakan kesehatan. Dima-mana juga yang namanya sesuatu kalau „kebanyakan“ efeknya justru buruk.


Daftar pustaka

Andreoli SP. Acute kidney Injury in children. Pediatr Nephrol (2009) 24:253-263

Strazdins V. Renal replacement therapy for acute renal failure in children: European Guidelines. Pediatr Nephrol. 2004 February; 19(2): 199–207

Goldstein SL. Pediatric acute kidney injury: it’s time for real progress. Pediatr Nephrol (2006) 21: 891-895.

Myjak BL. Serum and Urinary Biomarkers of Acute Kidney Injury. Blood Purif 2010;29:357-365. DOI:10.1159/000309421.