Skip to content

Koran Jerman

Oleh: Geraldus Martimbang

I.

Kalau di Indonesia ada koran-koran yang kita tahu menghiasi opini publik Indonesia, seperti Kompas, Tempo, Jakarta Post, Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Jawa Pos, Kontan, Bisnis Indonesia, dan lainnya, masing-masing dengan gaya pemberitaan dan geliat politik tertentu, di Jerman juga terdapat berbagai koran yang beragam. Berikut contoh-contohnya !

II. 

Koran Frankfurter Allgemeine dengan oplah 190.000 koran digadang-gadang sebagai padanan New York Times di Amerika atau Neu Zürcher Zeitung di Swiss. Harga langganannya juga termahal dibanding koran harian lainnya, karena pembahasan dinamika Jerman dan internasional yang sangat komprehensif dan disokong banyak data. Rubrik teknologinya juga melegenda karena amatlah up-to-date. 

III.

Harian Süddeutsche Zeitung dengan oplah 279.000 koran merupakan bacaan orang-orang di Bayern. Koran ini juga sering dilihat sebagai penyetor opini publik Bayern (yang relatif konservatif) dengan pemberitaan dan kritik progresif terhadap dinamika Bayern, Jerman, dan politik internasional. Misalnya, di tahun 2016, koran ini lah yang berjasa memproses data-data bocoran Panama Papers dan menyalurkannya ke koran-koran investigatif lainnya di seluruh dunia.

IV.

Harian TAZ merupakan salah satu penyumbang utama narasi kiri-hijau di Jerman, dengan beragam kritik terhadap kebijakan-kebijakan pemerintahan Jerman dan kebudayaan konservatif. Koran yang berbisnis model koperasi ini sering terkena kasus karena pemberitaan satirik dan pedas. Misalnya, di tahun 2020 beriringan dengan gerakan BLM, TAZ menerbitkan artikel dengan tajuk bubarkan kepolisian, yang beresonansi dengan kritik-kritik sosial para pemikir Afro-Amerika. Oplah harian TAZ mencapai angka 42.000.

V. 

Die Zeit, dengan haluan liberal-kiri-hijau, selain memaparkan kritik terhadap kebijakan-kebijakan pemerintahan Jerman untuk lebih progresif dalam mencapai target pengurangan emisi karbon, juga memberikan perhatian tinggi terhadap universitas. Iklan universitas yang membutuhkan profesor dan tenaga ajar lain, dan sebaliknya, amat sering muncul. Koran mingguan dari Hamburg ini memiliki angka oplah 480.000.

VI. 

Disebut-sebut sebagai koran wajib para CEO dan bos-bos perusahaan, das Handelsblatt dengan oplah harian sejumlah 89.000, merupakan koran mingguan yang fokus membahas urusan politik-ekonomi, bursa saham dan perdagangan, serta tekonologi. Pragmatisme serta orientasi kepada fakta dan statistik membuatnya tak hanya menjadi bacaan wajib sektor swasta, namun juga untuk orang-orang pemerintahan. 

VII.

Demikian informasi sekilas mengenai beberapa koran-koran di Jerman yang menunjukkan keberagaman pemberitaan dan arah opini publik di Jerman. Sayangnya, oplah koran-koran di Jerman, sebagaimana di semua negara lain, mengalami penurunan drastis. Selama 30 tahun terakhir, oplah koran harian di Jerman berkurang duapertiga. Dimulai dengan maraknya radio, televisi, dan kemudian smartphone di beberapa dekade belakangan yang juga menyediakan berita dengan lebih menarik, misalkan dengan video, suara, dan lain sebagainya, koran yang berukuran besar, bertulisan panjang-panjang menjadi kurang populer. Padahal, koran bisa dibilang merupakan sumber informasi yang paling terpercaya dan objektif, akibat proses redaksi panjang dari setiap berita yang dicetaknya. Makanya, demokrasi amat bergantung pada budaya koran. Kalau tertarik untuk ikut menyelamatkan keberadaan budaya baca koran, kira-kira mau mulai baca koran yang mana, ya?