Skip to content

Energi Nuklir: Baik atau Burukkah?

Ditulis oleh Hessel Juliust | Mahasiswa Master Informatik TU München, Jerman.

Energi nuklir sering kali menimbulkan perasaan tidak nyaman bagi banyak orang. Energi besar yang muncul dari suatu mineral mungkin bukan sesuatu yang intuitif bagi kita semua.

Pada Maret 2011 (setelah kecelakaan nuklir Fukushima Daiichi), demonstrasi anti-nuklir (sekitar 50.000 orang) membentuk barisan sepanjang 45 kilometer dari kota Stuttgart, menuju Beckarwestheim. Kejadian ini terpicu akibat tahun sebelumnya, pemerintah Jerman memutuskan untuk memperpanjang waktu pengoperasian 17 pembangkit nuklir yang beberapa sudah berusia lebih dari 30 tahun. Akhirnya pada Mei 2011, Kanselir Jerman Angela Merkel mengumumkan bahwa tujuh dari total tujuh belas pembangkit nuklir di Jerman akan ditutup. Disini kita akan bahas tentang korban dari energi nuklir dan detilnya. Namun sebelumnya mari kita bahas terlebih dahulu tentang energi  nuklir itu sendiri.

Adanya sejumlah energi yang ekuivalen dengan massa dari suatu materi pertama kali ditemukan oleh Albert Einstein pada tahun 1905 melalui persamaan terkenalnya E=mc2. Einstein pada saat itu ragu bahwa energi itu dapat kita ektrak dan manfaatkan. Sampai akhirnya tahun 1938 Otto Hahn dan Lisa Meitner menemukan reaksi fusi nuklir. 

Penggunaan energi nuklir pada saat setelah ditemukannya proses fisi dan tahun 1940an awal lebih ditekankan untuk penggunaan militer. Proyek riset nuklir untuk tujuan senjata yang paling terkenal yaitu proyek Manhattan menghasilkan bom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Mulai tahun 1951 barulah nuklir digunakan untuk pembangkit energi listrik dan sejak itu, ada sekitar 30 kecelakaan yang dilaporkan secara global. Kebanyakan dari mereka cukup kecil dibandingkan dengan dua yang kita semua tau yakni kecelakaan Fukushima dan Chernobyl.

Kecelakaan Chernobyl sering dikatakan sebagai kecelakaan nuklir terburuk dalam sejarah karena sejumlah alasan. Teknologi reaktor sudah tua dan tidak siap untuk keadaan darurat dan respons pemerintah yang banyak dianggap kurang siap. Pada kejadian ini tercatat 31 korban jiwa langsung. Namun yang membuat energi nuklir menakutkan bukanlah reaktor yang meledak, melainkan radiasi yang dilepaskannya. Jadi pertanyaan sebenarnya adalah berapa banyak kematian akibat kanker dan penyakit lain yang akan disebabkan oleh Chernobyl? 

Banyak kontroversi pada hal ini, namun perkiraan paling pesimistis terdapat pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh European Green Party yang memproyeksikan hingga 60.000 kematian hingga tahun 2065. Sebagian besar penelitian ilmiah menghasilkan angka yang lebih rendah dari ini. WHO memperkirakan bahwa total jumlah kematian jangka panjang akan menjadi sekitar 4.000. Sementara IAEA (International Atomic Energy Agency) menyimpulkan bahwa angka ini pun bisa jadi terlalu tinggi.

Kecelakaan nuklir yang lainnya yang akan kita bahas disini adalah kecelakaan Fukushima Daiichi pada tahun 2011. Fukushima Daiichi beroperasi dengan teknologi serta langkah-langkah keamanan yang jauh lebih baik. Namun begitu terdapat korban jiwa berjumlah 573 yang tercatat hingga saat ini. Jumlah korban jiwa yang tercatat ini bukan hanya akibat radiasi saja, namun juga korban jiwa tidak langsung seperti stress karena evakuasi daerah sekitar reaktor juga tercatat. Perkiraan kemungkinan kematian jangka panjang akibat radiasi sangat bervariasi, dari tidak ada sama sekali hingga sekitar 1.000. Pada tahun 2018 terdapat satu kematian yang dikonfirmasi di antara pekerja akibat kanker paru-paru akibat radiasi.

Energi terbarukan (matahari, angin, dan panas bumi) secara umum hanya menyebabkan kematian akibat kecelakaan konstruksi dan pemeliharaan. Kita akan bahas salah satu kecelakaan dari tenaga hidro (6.4% dari total produksi energi dunia), yang sebagian besar dengan cara membendung dan membiarkan air mengalir melalui turbin.

Satu kecelakaan yang akan kita bahas adalah kecelakaan bendungan pembangkit listrik tenaga hidro Banqiao 1975 di Tiongkok, yang memiliki sedikit kemiripan dengan kecelakaan Chernobyl. Teknologi lama, desain yang buruk, dan manajemen respon yang buruk. Pada saat itu terjadi topan besar yang memicu banjir hebat yang menghancurkan bendungan dan melepaskan banjir lebih dari 15 miliar meter kubik air. Secara keseluruhan, korban jiwa dari satu kecelakaan ini dan akibat langsungnya diperkirakan berkisar antara 85.000 hingga 240.000. 

Mari kita bandingkan dengan antagonis utama kita yaitu bahan bakar fosil, sumber energi dan listrik yang paling banyak digunakan. Pada pengunaan energi fosil, gas seperti ozon, sulfur dioksida, karbon monoksida, dan nitrogen dioksida dilepaskan ke atmosfer. Menghirup gas-gas ini mengganggu fungsi paru-paru, yang memperburuk kondisi kronis seperti asma dan bronkitis dan menyebabkan berbagai penyakit pernapasan dan kardiovaskular, tetapi yang lebih berbahaya adalah polusi partikel halus yang disebabkan oleh bahan bakar fosil.

Menurut WHO, gas-gas ini menyumbang 29% dari semua kasus kanker paru-paru, 17% kematian akibat infeksi saluran pernapasan bawah akut, 24% dari stroke, 25% dari penyakit jantung dan 43% dari penyakit paru obstruktif kronik.

Secara keseluruhan, polusi udara menambah kematian 4 juta orang setiap tahun. Namun, apa yang membuat polusi udara sangat bermasalah dan menyeramkan adalah kenyataan bahwa kerusakan yang ditimbulkannya terjadi sangat bertahap, yang membuat otak kita yang tidak berkembang dengan bahaya halus dalam pikiran untuk menyadari ruang lingkup masalahnya. Secara kolektif, polusi udara dari bahan bakar fosil diperkirakan telah membunuh sekitar 100 juta orang dalam 50 tahun terakhir.

Mari kita bahas juga proporsi kematian dibandingkan dengan energi yang dihasilkannya. Bahan bakar fosil menyediakan lebih dari 80% energi global sehingga masuk akal jika bahan bakar tersebut menyebabkan kematian paling banyak. Beberapa penelitian telah membandingkan tingkat kematian dari berbagai sumber energi per satu terawatt jam (konsumsi energi tahunan 187 ribu orang di Eropa). 

Untuk menghasilkan energi sebanyak itu selama satu tahun, batu bara menyebabkan 25 kematian, minyak bumi menyebabkan 18 dan gas alam 3. Bagimana dengan energi terbarukan? Angin menyebabkan satu kematian setiap 29 tahun, hidro setiap 42 tahun, dan solar setiap 53 tahun. Nuklir, dengan asumsi paling pesimistis menyebabkan satu kematian setiap 14 tahun. 

Dengan asumsi angka yang sangat pesimistis pun, energi nuklir adalah salah satu bentuk pembangkit energi yang relatif jauh lebih aman dibandingkan energi fosil, terlebih urgensi saat sekarang kita ingin memperlambat perubahan iklim.

Semua fakta ini masih menyisakan satu perdebatan utama yang menentang tenaga nuklir. Penentang energi nuklir berpendapat bahwa penyimpanan limbah nuklir adalah risiko yang tidak dapat diterima, sementara para pendukung energi nuklir mengatakan bahwa sampai energi terbarukan mampu memenuhi kebutuhan energi lengkap umat manusia, hal ini cenderung lebih aman untuk menyimpan limbah nuklir untuk saat ini daripada tetap menggunakan energi fosil dan mempercepat perubahan iklim.

Referensi

IAEA Nuclear Energy Series, Nuclear Accident Knowledge Taxonomy, 2016
https://www-pub.iaea.org/MTCD/Publications/PDF/Pub1730_web.pdf

Guardian, Nuclear power plant accidents: listed and ranked since 1952.
https://www.theguardian.com/news/datablog/2011/mar/14/nuclear-power-plant-accidents-list-rank#data

EA Nuclear Energy Series, Nuclear Accident Knowledge Taxonomy, 2016
https://www-pub.iaea.org/MTCD/Publications/PDF/Pub1730_web.pdf

Fairlie and Sumner, The Other Report On Chernobyl (TORCH), 2006
http://www.chernobylreport.org/torch.pdf

Nuclear Energy Agency, Chernobyl: Assessment of Radiological and Health Impacts (2002), 2002 Update of Chernobyl: Ten Years On
https://www.oecd-nea.org/jcms/pl_13598

The Chernobyl Forum, Chernobyl’s Legacy: Health, Environmental and Socio-economic Impacts, 2005.
https://inis.iaea.org/collection/NCLCollectionStore/_Public/36/093/36093263.pdf?r=1

Waddington I. et al., J-value assessment of relocation measures following the nuclear power plant accidents at Chernobyl and Fukushima Daiichi, 2017.
https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0957582017300782

Yomiuri Shimbun, Daily Yomiuri Online, 2012.
https://www.nrc.gov/docs/ML1234/ML12340A564.pdf

Frank N. von Hippel, The radiological and psychological consequences of the Fukushima Daiichi accident, 2011.
https://journals.sagepub.com/doi/full/10.1177/0096340211421588

Sovacool B.K. et al., Balancing safety with sustainability: assessing the risk of accidents for modern low-carbon energy systems, 2016.
https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0959652615009877

OWID, 2020.
https://ourworldindata.org/energy-mix#16-of-global-primary-energy-came-from-low-carbon-sources-in-2019

Sovacool B.K. et al., Balancing safety with sustainability: assessing the risk of accidents for modern low-carbon energy systems, 2016.
https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0959652615009877

The Catastrophic Dam Failures in China in August 1975
https://www.sjsu.edu/faculty/watkins/aug1975.htm

History Behind Germany’s Nuclear Phase Out
https://www.cleanenergywire.org/factsheets/history-behind-germanys-nuclear-phase-out

DW, German nuclear energy history: a timeline
https://www.dw.com/en/german-nuclear-energy-history-a-timeline/a-15117199

#OWID, What are the safest sources of energy?, 2020.
https://ourworldindata.org/safest-sources-of-energy

Foto cover oleh Lukáš Lehotský melalui Unsplash